Home Sweet Home

Rumah itu bukan sekedar seberapa mewahnya, bukan pula seberapa besarnya dan juga bukan seberapa banyak harta yg ada didalamnya.
Rumah itu tentang seberapa hangat orang-orang didalamnya 🙂

Entah kenapa pengen nulis ini, tiba-tiba aja terlintas dipikiran. Ada apa dengan rumah? Kayaknya sih lantaran udah 3 hari ini aku tinggal dirumah baru (baca : kontrakan).
Pengen sih punya rumah permanen jadi ga perlu rempong pindahan, ga perlu pusing nyari kontrakan. Suatu hari nanti, aku sih imanin dengan sangat supaya terjauh dari  kutuk mengembara aliasnya ya punya rumah sendiri yg layak di ibukota, tapi nabung dulu :))
Oiya, setidaknya udah 2x aku pindah kontrakan, pertimbangannya ya karena harga, luas bangunan dan lokasi. Nah rumah kontrakanku yg sekarang ini emang sih lebih mahal (2 digit boo) tapi untungnya bisa dicicil 2x dan untungnya lagi rumahnya lebih luas, dan untungnya lagi ga jauh dari jalan raya. Tuh coba liat aku beruntung kan hehee.
Rumahnya punya orang Bali, kata tetanggaku, orang2 yg sebelumnya ngontrak disana taun depannya punya rumah sendiri, wahh rumah pembawa berkah ya.. Puji Tuhan deh kalo beneran begitu 🙂
Emang sih situasi finansial lagi rada seret lantaran pindahan berdekatan dengan lebaran, tau kan lebaran itu pengeluarannya menggila. Aku ga ngerayain lebaran tapi aku bersenang-senang pas lebaran. Mudik terus ketemu keluarga besarku yg agamanya beraneka ragam 🙂
Mudik berarti harus siapin dana buat beli tiket PP Jakarta – Cirebon dan sebaliknya, perlu juga siapin uang buat beli oleh2, terus buat jajan disana karena kan ga mungkin pake uang ibuku kan, kan udah gede masa masih minta dijajanin 🙂
Seret dompet ga pa pa kan sifatnya cuman sementara yg penting bahagianya ga ikutan seret. Kalo pas lagi seret dompet kayak gini, entah kenapa selalu ada keyakinan bahwa Tuhan akan-pasti-sudah mencukupi. Selalu muncul keyakinan bahwa dalam setiap keseretan saat itu juga ada kelegaan. Pasti uangnya cukup. Seperti hari-hari sebelumnya, Tuhan sering sekali menaburkan serbuk ajaibnya ke-aku dan taraaaaa jadilah yg ajaib2 itu.
Tuhan tahu aku tuh penggila keajaiban, jadi Dia sering kali nunjukkin hal-hal kayak gitu ke-aku. Kayak anak kecil ya, gapapa aku mau jadi seperti itu, penggandrung keajaiban dan mujizat dan juga penikmat keajaiban dan mujizat.
Wah jadi kemana-mana yaa padahal awalnya pengen cerita soal rumah hehee. Btw aku belum cerita ya kalo sebelumnya setidaknya 9 tahun di masa aku tumbuh aku juga tinggal nomaden, pindah2 dari 1 rumah kontrakan ke kontrakan lainnya. Aku sih yakin bukan karena alasan ekonomi sampai papaku memutuskan buat hidup nomaden padahal kalo yg aku liat sih uang cukup. Rumah kontrakan kami bukan rumah besar dan mewah tapi buatku itu ‘lebih dari sekedar mewah’. Bahagia, hangat. Aku mau punya rumah yg hangat kayak rumah masa kecilku, rumah yg penghuninya akan saling mengkhawatirkan kalau salah satunya terlambat datang, yg penghuninya saling tertawa ketika satu orang bahagia, yg penghuninya turut sedih ketika salah satu penghuninya menangis, yg saling bercengkrama disatu meja, yg hangat.

*Pict : http://www.cse.org.uk

Iklan

Penulis: biruselalubaru

Seorang anak, seorang karyawan, seorang adik dan juga seorang kakak, pecinta liburan dan akhir pekan, pemikir kelas ringan, dunia itu abu abu tidak ada yang hanya jahat saja ataupun baik saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s