Sang Penari

Aku menari bersama hujan dijalanan panjang
Aku menari menggerakan jemari lemah gemulai
Aku menari ketika semua orang diam mematung
Aku menari ketika semua orang berlindung dibawah atap
Aku menari dan orang bertanya-tanya gilakah aku?

Bodoh…. aku menari karena aku bahagia
Aku gila? maka biarkanlah aku gila karena aku bahagia.

=============================

PS : aku nulis ini sembari dengerin lagunya Jet – Look what you’ve done-

Iklan

Dari dalam hati

Dan akhirnya yg tersisa adalah ucapan syukur dan terima kasih tanpa batas. Yap begitulah keputusannya setelah perenungan tanpa sengaja di bangku gereja minggu kemarin.

Kenapa harus terikat erat dengan pengakuan akan keberhasilan? Kenapa harus tersakiti ketika ada yg merendahkan?

Mungkin saat itu sesosok malaikat datang dan mengetok pintu hati yang terlalu tebal ini, terlalu lama terkunci. Dan saat akhirnya kuputuskan untuk dibuka yang tersisa adalah lega.

Terima kasih Tuhan untuk semua yg sudah terjadi, bukan untuk ditangisi tapi memang harus dilalui. Bukan untuk disesali, dan bukan untuk diratapi. Tidak selalu karena awal yg berbeda, tapi perjalanan menuju akhir yg lebih utama. Berhentikah atau terus saja berlari? Aku memilih opsi kedua.

Dear Pagi

Pernahkah aku cerita kalau aku suka pagi, ehmm bukan sekedar suka atau malah ini cinta 🙂

Aku suka terbangun di pagi hari, aku suka dinginnya pagi, aku suka warna langit yg beralih dari gelap hingga biru terang, aku suka matahari yang perlahan naik, aku suka hangatnya.
Aku suka pagi karena setiap kali aku bangun aku tahu aku punya satu kesempatan lagi untuk memperbaiki hari kemarin, oh ya dan satu hari lagi untuk membangun pijakan yg lebih kuat untuk besoknya.
Aku suka pagi, oh malah aku cinta pagi 🙂