Kopi

Akhirnya menyerah juga aku pada kopi panas itu. Secangkir kopi yang tidak hitam dengan butiran granul coklat diantara buih-buihnya. Secangkir kopi dengan harapan membelalakan mata setidaknya sampai bel pulang berbunyi.

Entah sudah berapa kali aku mengulang-ulang kalimat aku ngantuk, bukan karena jam tidur yang memang sedikit berantakan akhir-akhir ini, ah entahlah nampaknya semua pekerja pun mengalami hal yang sama seperti aku. Terjangkit serangan ngantuk di jam-jam genting siang menjelang sore atau kalau boleh diperjelas justru ketika jam istirahat sudah selesai.

Biasanya aku tepis kantuk itu dengan browsing sana-sini, dengerin lagu mulai dari berbagai bahasa (oke ini lebay) maksudnya cuman antara lagu Korea ke Inggris doang. Tapi kali ini ngga mempan. Kali ini aku tahu aku perlu kopi.

Secangkir kopi panas untuk pertama kalinya selama berbulan-bulan ini kuteguk juga dengan sedikit kalap. Seteguk, dua teguk, tiga teguk dan tersisa tiga tegukan lagi didasar gelasnya.

Secangkir kopi dengan sedikit penyesalan dibeberapa menit setelah meminumnya. Cukup sudah, lain kali tidak begini lagi, tidak secangkir lagi! Apa ini, rasa terjaga dengan debaran yang tidak nyaman. Kubayar sudah secangkir kopi panas itu, maaf lain kali tidak akan lagi,

Iklan

Penulis: biruselalubaru

Seorang anak, seorang karyawan, seorang adik dan juga seorang kakak, pecinta liburan dan akhir pekan, pemikir kelas ringan, dunia itu abu abu tidak ada yang hanya jahat saja ataupun baik saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s