Orang itu

Udah lama pengen nulis tentang ini, tentang seorang pria setengah baya yang sering kutemui diperjalanan menuju kantor.

Pagi tadi aku melihatnya lagi, seorang pria bertelanjang dada dengan celana pendek sepaha berwarna hitam. Kali ini dia sedang jongkok diteras depan rumahnya, wajahnya selalu seperti itu, pandangan matanya pun begitu.

Kemarin pagi aku melihat dia juga hanya saja kali itu dia sedang berdiri menghadap sungai didepan rumahnya, dengan wajah dan pandangan mata yang serupa dengan hari ini.

Wajahnya tidak pernah lepas dari senyuman ataupun tawa, entah itu jongkok atau berdiri. Kadang aku lihat dia termenung sebentar kemudian tertawa lagi tanpa sebab.

Dia yang tidak tersentuh oleh gonjang – ganjing dunia, tidak peduli arti tatapan dan omongan orang, dia nyata-nyata hidup di ‘surga’ yang ada dikepalanya. Kalau yang dicari manusia adalah bahagia setidaknya dia terlihat bahagia.

Iklan

Coba Lagi

Untuk yang kali ini, kukirimkan sekian kb file pdf tersebut dengan ekstra doa dan puasa.

Karena sungguh aku percaya bahwa Engkau saja pemegang kendali diatas segala. Pemegang kunci atas setiap pintu. Pangkal segala harap…

Orang bijak berkata gagal itu tidak ada yang ada hanya belajar. Kalau yang kemarin-kemarin itu masih disebut belajar, maka kali ini sungguh kuberharap bahwa aku sudah dianggap cukup paham.

Dear Tuhan, ini sebuah doa dengan kata amin tersembunyi ditiap titiknya.

~anakMu~

 

Tentang dia #1

Aku merindukan dia, sosok tanpa nama dengan wajah yang anehnya dapat kuingat dengan jelas.

Kadang aku sematkan doa indah untuknya, untaian panjang serupa kalung mutiara bertuliskan semoga semuanya baik – baik saja.

Kalian tahu siapa dia? Dia lah orang yang kusebut  mempesona tanpa usaha, yang bersinar tanpa perlu pusing totok aura. Dia yang aku tidak tahu harus menyebutnya sebagai siapa?

Dia nyata, dia benar – benar ada dan dia sama manusianya seperti aku dan kamu.

Aku sedang tidak berilusi dengannya, dia bukan sosok antah berantah yang mengambang diudara. Dia lebih sering menari-nari dipikiranku, hilir mudik meloncat melesat melampaui dimensi yang disebut waktu.

Aku hapal suaranya, dia menggema disetiap lekuk kepala. Aku bisa merasakan genggaman tangannya, hangat sekaligus dingin yang menyegarkan. Entah kusebut apa suhu seperti itu, hanya saja rasanya aku pernah menyentuh tangan yang seperti itu dulu, genggaman ayahku.

Aku dan dia, kami penghuni dunia yang  tidur dan bangun dibawah langit yang sama, berlari dan berjalan di atas tanah yang  serupa dan memohon pada Empunya yang sama. Harinya dan hariku datang dan berlalu diwaktu yang tidak berbeda. Pagi, siang dan malam berulang dikeesokan dan esoknya lagi dan esoknya lagi.

Aku tidak mengenalnya bahkan tidak tahu siapa namanya.

Malam kemarin dia sukses memberantakkan isi kepalaku. Aku tidur dan bangun dengan bingung. Mimpi yang tidak berbekas, perasaan yang meluap luap. Dia menggerayang dengan santun diotakku, sedikit demi sedikit menguasai hati, perlahan tapi pasti menjajah aku yang memuja sebuah kata bernama merdeka.

Aku tidak tahu namanya, tapi kuhela dan kuhembus dia dengan suka rela.

Doa Pagi Model Apa Ini!

Dear Tuhan,

Pagi ini aku bangun dengan perasaan ngga karuan, ruwet, rumit, males, bingung, pusing, kacau haaahhhh *hela napas*

Perasaan – perasaan itu udah dipersiapin sedikit demi sedikit dari semalam, ini salah sih cuman hahhhh *hela napas*

Kadang tuh ya peperangan yang ada di kepala jauh lebih parah daripada keadaan sebenarnya, aku paham banget  makna kalimat itu…. *hela napas*

Semoga hari ini bisa cepat berlalu dengan cantik…

Amin.

PS: Doa aku kacau ya.

Selamat Hari Ayah

Tulisan ini tentang dia, tentang ayahku yang wajahnya makin pudar dari ingatanku. Aku sudah lupa seperti apa bentuk matanya, seperti apa bentuk hidungnya……

Dear memori jangan jadikan aku anak durhaka karena lupa seperti apa suaranya.

Aku ingat hari itu yang entah tanggal berapa, tepat pukul 06.00 pagi, kusalami tangan kasar hangat itu tanpa menyadari kalau malamnya dia tidak akan pulang lagi.

Aku ingat hangat pelukannya, aku ingat cara dia tertawa, aku ingat cerita sebelum tidur yang berulang kali diceritakan olehnya, aku ingat permintaan maafnya kala tidak bisa merayakan hari ulang tahunku.

Aku ingat tangis ketika aku sadar dia tidak akan pernah menemaniku lagi, tidak untuk hari itu dan jutaan hari kedepannya.

Teruntuk ayahku,

Pria pertama yang kucintai setengah dari hidupku,

Kau akan bangga punya aku sebagai anakmu,seperti halnya aku bangga padamu.

Selamat hari ayah