Kukenal Sosok Wanita Yang Jarang Sekali Berdoa

keren

LINIMASA

Pagi ini, aku membaca puisi Abdul Hadi.

Tuhan/ kita begitu dekat/ sebagai api dengan panas/ aku panas dalam apimu/

Tuhan/ kita begitu dekat/ seperti kain dengan kapas/ aku kapas dalam kainmu

Tuhan/ kita begitu dekat/ seperti angin dan arahnya/

Kita begitu dekat/

Dalam gelap/ kini aku nyala/

pada lampu padammu

Pernah melihat ibu kita berdoa? Kapan pertama kali kita sadar ibu kita berdoa? Berdoa untuk kita, anak-anaknya.

Aku jarang melihat ibuku berdoa. Ibuku lebih banyak terlihat bekerja. Saat aku kecil, setelah bangun tidur,  aku tak lekas mandi. Aku melihat ibu yang sedang mengucek pakaian. Saat itu kami tak gunakan jasa pembantu. Baju dan celana ayah, kakak, adik, bajuku dan bajunya sendiri selalu saja sedang dia bilas. Waktunya selalu sama: saat aku membuka mata di pagi hari.

“Nak, bangun, sholat lalu mandi”.

Ibuku tidak sedang berdoa, namun menyuruhku berdoa. Ibuku memilih sedang bekerja saat dilihat anak-anaknya. Saat itu, aku selalu yakin…

Lihat pos aslinya 355 kata lagi

Iklan

Sejenak Kamu

Aku ingin menulis tentangmu

tentang jemari dan langkah tegapmu

tentang jiwa yang tenang dan menenggelamkan

Aku merindu dalam akan kenangan

tentang matahari dan bulan

tentang langit biru dan senyapnya malam

——–

Aku ingin menulis tentangmu

dengan hanya sedikit kenangan

yang lambat laun menghilang

———-

Aku ingin menulis tentangmu

sebelum aku lupa siapa kamu

sejenak saja berdiam dipikiranku

sebelum aku lupa siapa kamu

Tanggal 2

Baru saja melangkahkan kaki di hari ke-2 bulan Desember. Ada satu keruwetan yang harus diselesaikan, harus diurai supaya tidak menyandung dan tidak mengurung.

Hari ini baru saja dimulai tapi entah kenapa aku merindu gila pada sore. Ya begitulah seperti layaknya aku dihari senin yang menggebu-gebu menunggu sabtu, padahal hari minggu baru saja berlalu.

Ada yang salah, bukan dengan hari dan waktunya, bosan mungkin itu jawabnya atau hormon? ah ya sudahlah apapun itu.

November-Desember

Desember yang terlalu cepat datang, setidaknya itu yang aku rasa. 

Kalender di mejaku enggan beranjak dari bulan November, bahkan kalender dekat wastafel sudah membeku lebih dahulu di bulan September. Tahun ini belum berakhir kan Tuhan, desember masih menyisakan 30 hari lagi untuk diisi dan dinikmati, semoga yang didoakan pun terjadi.

Dear Tuhan,

Yang nampak kini hanya layar kosong, hanya saja kali ini aku sudah berbeda, November memberi banyak hal untuk direnungkan. Kali ini layar kosong itu aku pandangi dengan semangat membara dan keikhlasan luar biasa.

Sesungguhnya Engkau sedang merangkai keping – keping gambar hidupku, menyatukannya perlahan-lahan sesuai waktuMu, sampai akhirnya yang ada pada layar adalah gambaran bahagia.

Sesuai dengan waktuMu, mempercayai keberadaanMu dan pekerjaanMu.

Meyakini setiap janjiMu, mengikhlaskan diri untuk setiap jawaban dari rentetan doa dan ribuan harap yang melambung tinggi.

Apapun itu…..sungguh….. pada akhirnya semua adalah baik, aku percaya itu.

Ada amin disetiap titik kalimat ini, aku tahu Engkau tahu.

dari anakMu