Cinta itu

Cinta itu…
Tentang kamu yang jadi pusatku
Dan aku yang rela hati berputar mengitarimu

Cinta itu….
Tentang sekarang
Tentang besok

Cinta itu…
Acuh dengan yang dulu
Berpura lupa dengan salahmu dan salahku

Cinta itu….
Tidak sempurna untuk mereka hanya saja segalanya buat kita

Iklan

Jadi kapan?

Mau cari yg seperti apa? Yg kaya? Yg ganteng? Atau kombinasi semuanya? <— pertanyaan kedua setelah pertanyaan KAPAN ­čÖé

Hey, untuk yg nanya “KAPAN” , nampaknya kalian salah tanya ­čÖé Pertanyaan kapan itu bukan kuasa saya untuk jawab.┬áMemang saya siapa? Tuhan?┬áLah wong saya aja sama penasarannya sama kalian ko ­čśÇ Ajukan pertanyaan kapan kamu pada Yang Punya Waktu ya, da saya mah hanya manusia yang bisanya cuman buat ribuan rencana ┬ádimana sisanya Tuhan yang punya kuasa.

Lalu apa yg dicari? Apakah yang kaya raya-kah? yang hartanya melimpah ruah dan gak abis dibagi 7 turunan-kah? atau yang ganteng dan aura seksinya menyerupai Adam Levine-kah :p

Oh God, pengen ketawa rasanya nulis paragraf terakhir itu ­čśÇ ┬áLevel ke-keren-an cowo diliat dari fisiknya itu mah anak sekola pisan :p Dulu waktu masih amat belia memang definisi keren itu ya yg begitu. Hanya saja seturut dengan bertambahnya usia dan tingkat kedewasaan entah kenapa kriteria keren model gitu pelan-pelan kehapus dan keganti. Lambat laun pemain basket yang tinggi dan putih udah ga bikin takjub mata lagi, orang organisasi nampak biasa aja bahkan orang yg ip-nya tinggi pun yah biasa aja keliatannya, ngga ada cahaya-cahaya nya gitu (apa sehh -_- ) ngga semenakjubkan dulu ­čÖé

Bermalam – malam yang lalu terlintas dipikiran saya emangnya kriteria saya itu yang kayak apa sih? Saya renungin baek – baek…. dan ternyata jauh dilubuk hati saya kriteria lelaki keren itu ada di ayah saya. Orang bilang seorang ayah akan selalu jadi cinta pertama anak perempuannya, ah nampaknya saya termasuk kelompok itu. Cinta pertama saya didunia ini adalah alm. ayah saya.

Cerdasnya beliau, hangatnya beliau, sabarnya beliau, hebatnya beliau….Tuhan…saya tau banget ngga ada satu manusia pun yang sama dan serupa diatas bumi ini tapi bisalah Tuhan kalau “orang itu” se-enggak-nya punya sifat sifat baik seperti ayah saya.

Dan oiya, bisakah kalian berenti menanyakan kapan dkk ? Jadi males tau kalo diajak reunian atau ngumpul kangen kangenan kalo terus ditanyain model begitu. Ah atau memang kalian terlalu “care” sama hidup orang lain ya ­čśÇ

 

Kamu (lagi)

Untuk kamu, sebuah nama yang belum bisa disebut lisan, sebuah nama yang mungkin membaca postingan ini, sebuah nama yang entah bagaimana selalu terselip dalam doa.

Untuk kamu, sebuah nama yang melompat lompat dari otak lalu ke hati kemudian ‘meluluh lantakan’ kerja jantungku, sebuah nama yang sanggup menenggelamkanku dalam suatu tenang yang dalam.

Untuk kamu, sebuah nama yang masih saja rahasia dan untuk Tuhan yang berjanji akan mengungkapnya…. nanti.

Tentang dia #1

Aku merindukan dia, sosok tanpa nama dengan wajah yang anehnya dapat kuingat dengan jelas.

Kadang aku sematkan doa indah untuknya, untaian panjang serupa kalung mutiara bertuliskan semoga semuanya baik – baik saja.

Kalian tahu siapa dia? Dia lah orang yang kusebut  mempesona tanpa usaha, yang bersinar tanpa perlu pusing totok aura. Dia yang aku tidak tahu harus menyebutnya sebagai siapa?

Dia nyata, dia benar – benar ada dan dia sama manusianya seperti aku dan kamu.

Aku sedang tidak berilusi dengannya, dia bukan sosok antah berantah yang mengambang diudara. Dia lebih sering menari-nari dipikiranku, hilir mudik meloncat melesat melampaui dimensi yang disebut waktu.

Aku hapal suaranya, dia menggema disetiap lekuk kepala. Aku bisa merasakan genggaman tangannya, hangat sekaligus dingin yang menyegarkan. Entah kusebut apa suhu seperti itu, hanya saja rasanya aku pernah menyentuh tangan yang seperti itu dulu, genggaman ayahku.

Aku dan dia, kami penghuni dunia yang  tidur dan bangun dibawah langit yang sama, berlari dan berjalan di atas tanah yang  serupa dan memohon pada Empunya yang sama. Harinya dan hariku datang dan berlalu diwaktu yang tidak berbeda. Pagi, siang dan malam berulang dikeesokan dan esoknya lagi dan esoknya lagi.

Aku tidak mengenalnya bahkan tidak tahu siapa namanya.

Malam kemarin dia sukses memberantakkan isi kepalaku. Aku tidur dan bangun dengan bingung. Mimpi yang tidak berbekas, perasaan yang meluap luap. Dia menggerayang dengan santun diotakku, sedikit demi sedikit menguasai hati, perlahan tapi pasti menjajah aku yang memuja sebuah kata bernama merdeka.

Aku tidak tahu namanya, tapi kuhela dan kuhembus dia dengan suka rela.

Ya, aku, kamu dan kita

Kalau aku tahu siapa kamu, maka aku lebih baik berlari kearahmu, sedikit tergesa tak mengapa, ahh mungkin aku sudah putus asa.

Sayangnya sedikitpun tidak tersisa jejak yang bisa kuikuti, tidak dibuku ini dan tidak juga dijalanan ini, ahh mungkin bukan tidak, mungkin kamu memang belum sempat bertandang kesini.

Kapanpun, dimanapun (yang semoga tidak terlalu lama) sadari hadirku hanya dengan rasamu, tidak perlu berlelah meyakinkan diri, ketukan hati adalah suara terlantang yang menggema dikepala dan jiwa.

Ketika itu adalah iya, cukup anggukkan kepalamu, iya itu aku, dan aku melihatmu.