Doa pertama

Ada satu doa yang alm. Ayahku ajarkan semasa aku kecil. Seperti ini bunyinya :

Hosilehon Angoluan

Amanami debata

Saepenuji hootuhan

Aetoktong dohobasa

Amen

Doa ini dulu jadi doa makan dan doa sebelum tidurku. Aku mengucapkannya dengan mantap tanpa tahu artinya 🙂

Well, aku meyakini doa ini adalah doa yang baik hingga kata amin pun ringan diucapkan.

Btw, aku ngga terlalu yakin tulisan doa diatas itu bener atau ngga coz aku nulisnya sesuai ejaan yang aku inget aja, ada yang tahu arti doa ini? Heheee doanya pake bahasa batak karena ayahku orang sana, sayangnya belum sempet ngajarin anak-anaknya bahasa batak beliau udah dipanggil Tuhan duluan.

Singkat cerita riwayat doa ini kelar begitu aku makin dewasa berganti dengan doa-doa berbahasa Indonesia.

Doa yang diatas adalah doa yang pertama kali aku pelajari karena selanjutnya disekolah ada doa bapa kami dan doa-doa karangan sendiri yang kadang panjang kadang pendek -tergantung keadaan-

doa-052

Pict. taken from http://www.doaharian.com/front/images/stories/gambar/doa-052.jpg

Tentang rindu

Matahari sore ini mirip dengan yang ada dikampungku. Hangatnya, terangnya…. ah mungkin aku sedang merindu. Rindu kampung halamanku, tempatku menjejakkan langkah diawal-awal masa hidupku.

Cirebon dan Tegal, kenangan akan dua kota ini selalu membuatku melayang. Pikiranku dengan pintarnya menerjang terowongan waktu tanpa ampun, membuatku melonjak lonjak melompat riang. Sepuluh tahun, dua puluh tahun seberapapun lamanya jarak itu.

Mungkin aku sedang merindu, rindu akan rumah kecilku, rindu akan tanahnya, rindu akan dedaunannya, rindu akan ibu, rindu akan ayah, rindu akan tetanggaku, rindu akan awan, rindu akan langit biru, rindu akan waktu.

Aku merindu masa lalu.

Selamat Hari Ayah

Tulisan ini tentang dia, tentang ayahku yang wajahnya makin pudar dari ingatanku. Aku sudah lupa seperti apa bentuk matanya, seperti apa bentuk hidungnya……

Dear memori jangan jadikan aku anak durhaka karena lupa seperti apa suaranya.

Aku ingat hari itu yang entah tanggal berapa, tepat pukul 06.00 pagi, kusalami tangan kasar hangat itu tanpa menyadari kalau malamnya dia tidak akan pulang lagi.

Aku ingat hangat pelukannya, aku ingat cara dia tertawa, aku ingat cerita sebelum tidur yang berulang kali diceritakan olehnya, aku ingat permintaan maafnya kala tidak bisa merayakan hari ulang tahunku.

Aku ingat tangis ketika aku sadar dia tidak akan pernah menemaniku lagi, tidak untuk hari itu dan jutaan hari kedepannya.

Teruntuk ayahku,

Pria pertama yang kucintai setengah dari hidupku,

Kau akan bangga punya aku sebagai anakmu,seperti halnya aku bangga padamu.

Selamat hari ayah