Mentok

Pagi ini seperti pagi dihari-hari kemarin. Dan aku pun juga begitu. Tidak ada yang berubah setidaknya sampai jam sekarang ini.

Bangun tidur, cari remote tv, setel tv (channel-nya pun berselang-seling antara metro, rcti dan tv1) hahhhh….aku menulisnya sembari menghela nafas panjang. Setiap harinya berganti kadang diawali dengan kecemasan soal pekerjaan, kadang diawali dengan keengganan dan kemalasan, kadang dengan rasa gembira yang entah karena apa.

Kadang aku bertanya ada apa gerangan ini, kadang aku mencoba menjawabnya dengan sebentar terdiam dan sedikit perenungan, kadang aku diamkan saja semua tanda tanya itu. Lalu pertanyaan itu hilang tenggelam sebentar untuk kemudian muncul lagi dan terulang lagi kegiatan itu…bertanya lagi, terdiam lagi…..

Mentok, satu kata yang menjelaskan dengan terang paragraf-paragraf diatas šŸ˜¦

Iklan

Kopi

Akhirnya menyerah juga aku pada kopi panas itu. Secangkir kopi yang tidak hitamĀ dengan butiran granul coklat diantara buih-buihnya. Secangkir kopi dengan harapan membelalakan mata setidaknya sampai bel pulang berbunyi.

Entah sudah berapa kali aku mengulang-ulang kalimat aku ngantuk, bukan karena jam tidur yang memang sedikit berantakan akhir-akhir ini, ah entahlah nampaknya semua pekerja pun mengalami hal yang sama seperti aku. Terjangkit serangan ngantuk di jam-jam genting siang menjelang sore atau kalau boleh diperjelas justru ketika jam istirahat sudah selesai.

Biasanya aku tepis kantuk itu dengan browsing sana-sini, dengerin lagu mulai dari berbagai bahasa (oke ini lebay) maksudnya cuman antara laguĀ Korea ke Inggris doang. Tapi kali ini ngga mempan. Kali ini aku tahu aku perlu kopi.

Secangkir kopi panas untuk pertama kalinya selama berbulan-bulan ini kuteguk juga dengan sedikit kalap. Seteguk, dua teguk, tiga teguk dan tersisa tiga tegukan lagi didasar gelasnya.

Secangkir kopi dengan sedikit penyesalan dibeberapa menit setelah meminumnya. Cukup sudah, lain kali tidak begini lagi, tidak secangkir lagi! Apa ini, rasa terjaga dengan debaran yang tidak nyaman. Kubayar sudah secangkir kopi panas itu, maaf lain kali tidak akan lagi,

Khawatir

Aku kehilangan percayaku yang termakan oleh khawatirku, habis tanpa sisa.

Aku lunglai tanpa daya, tak berpegang dan bertopang.
Aku menyemai hidupku dalam lelah, menanam benihnya perlahan dan menuai hasilnya tanpa senang.
Sekalipun beratus kali aku baca bahwa khawatir itu tiada guna.
Sekalipun jutaan kali aku dengar bahwa khawatir itu mencekik hari dan menambah derita.
Sekalipun aku juga tahu khawatir itu tidak menyelesaikan dan memperbaiki.
Dan sekalipun aku tahu bahwa aku jelas – jelas sedang merugi.
Mungkin aku hanya tahu tanpa paham dan sadar.
Dear Penyedia Segala,
Bagaimana harusnya aku?

.?,:!?

Ada beberapa hal yg rindu sekali tangan ini untuk menggenggam, tapi mungkin belum saatnya.
Sepertinya sudah didepan mata tapi nyatanya … ah ya sudahlah, mungkin belum saatnya.
Selalu begitu, menghibur diri dengan beribu alasan itu.
Bosan? entah
Lelah? entah, sepertinya …
Jadi, harus bagaimana?
Mengejar? Perlukah? Mendamba? Masih bisakah?
Putus harapkah? Semoga tidak

========================

Tuhan dengar doaku, doa terdalam yang hanya bisa terucap tanpa suara
Yang bahkan sulit untuk digambar dan disebut dalam kata
Apa namanya ini? Yg bahkan diri pun tak kuasa menjawabnya cuma Engkau yg bisa

Maaf karena mengeluh

Senin berlalu untuk berganti selasa dan seterusnya hingga jumat lalu sabtu dan minggu kemudian berputar ke senin.
Berjalan lambat di hari sabtu dan minggu hingga tiba-tiba senin sudah datang dan mengetuk pintu.
Ahh, kenapa senin diawali dengan kantuk dan segar di akhir hari bukan sebaliknya.

pict taken from keltiecolleen.buzznet.comĀ 

Semangat yg Kelelahan

Seberapa jauh langkah kita masih bisa terjejak?
Seberapa panjang lengan kita masih bisa terulur?
Tanpa bataskah?
Langitpun adalah batas.
Kadang lelah, tapi begitulah keadaannya
Selama besok masih ada, selama itu pula pintu selalu terbuka
Tak perlu patah asa
Gelap dan abu cuma sementara
Dan terang untuk selamanya
Berpeganglah jangan terlepas dan dilepas apalagi melepas
Cukup digenggam erat
Teriakkan kata BISA dan pasti BISA
Bukan karena kita dan kuatnya tapi sepenuhnya hanya karena Dia
pict taken from http://www.mi9.com