Semangat!!!

Kali ini aku mau cerita tentang mimpi atau bisakah kalo sekarang disebut cita-cita? Iya cita-cita selangkah lebih maju daripada sekedar bermimpi karena setidaknya aku sudah punya sedikit rencana untuk mewujudkannya. Sedikit-sedikit, perlahan tapi pasti. Amin.

Sekolah lagi, iya itulah mimpi yang jadi cita-cita aku sekarang ini. Dulu bertahun tahun yang lalu *mulei sotoy dan sok tua* nglanjutin s1 itu sempet jadi mimpi menggebu – gebuku sayangnya makin kesini kok keinginannya makin redup….

Sampai ketika aku memutuskan untuk ikutan les toefl preparation dan ketemu teman-teman yang ambisi pendidikannya melebihi aku 🙂 Mereka kebanyakannya memang ikut TOEFL Preparation karena mau lanjut kuliah ke luar negeri. Wah aku jadi merasa termotivasi lagi 😀

Keluar negri? Sekolah? Beasiswa…… dapat beasiswa untuk nglanjutin sekolah keluar negri yapp itu tujuan aku saat ini. Ngayal? Oh jelas tapi bukannya segala sesuatu yang besar itu dimulai dari hayalan 🙂

Ada beberapa orang yang aku kenal yang bahkan untuk mengkhayal saja tidak berani, kasihan ya… wong ngayal itu nggak bayar kok. Aku berkhayal dan yang lebih utama lagi aku melakukan sesuatu untuk mewujudkan hayalan yang konon kata beberapa orang disebut mustahil.

Aku ngga tau apa aku bakal jadi lanjut sekolah keluar negri atau ngga, jalannya masih panjang dan berliku. But heyy, setidaknya aku sudah melangkah sekalipun saat ini baru selangkah, setidaknya aku tidak tinggal diam dan setidaknya aku tidak akan menyesal karena sudah memilih berjalan maju.

Aku tahu kalaupun aku tidak sampai ketujuanku aku sudah berjalan melebihi mereka yang hanya bisa diam dan mencibirku. Mereka selamanya akan tetap ada dibelakangku 🙂

The future belongs to those who believe in the beauty of their dreams – Eleanor Roosevelt-

 

Hebat itu

Nanti, ya nanti ketika aku sudah berkeluarga aku mau anakku jadi manusia yang hebat.

Hebat karena dia adalah seorang pekerja keras yang pantang menyerah. Hebat karena kerendah hatiannya. Hebat karena kesantunannya dalam memperlakukan orang lain. Hebat karena kebersahajaannya. Hebat karena cintanya kepada keluarga dan sesama. Hebat karena kepribadiannya. Hebat karena pelukan hangatnya. Hebat karena hormatnya kepada orang tua. Hebat karena ide – ide cemerlangnya, dan terutama diatas segala kehebatan seorang manusia aku ingin dia jadi hebat karena cinta luar biasanya kepada Tuhan sang maha segala.

Dia akan jadi anak yang hebat dan kuat.

Dan dia akan menjadikan dunia jauh lebih ramah bagi para penghuninya.

Home Sweet Home

Rumah itu bukan sekedar seberapa mewahnya, bukan pula seberapa besarnya dan juga bukan seberapa banyak harta yg ada didalamnya.
Rumah itu tentang seberapa hangat orang-orang didalamnya 🙂

Entah kenapa pengen nulis ini, tiba-tiba aja terlintas dipikiran. Ada apa dengan rumah? Kayaknya sih lantaran udah 3 hari ini aku tinggal dirumah baru (baca : kontrakan).
Pengen sih punya rumah permanen jadi ga perlu rempong pindahan, ga perlu pusing nyari kontrakan. Suatu hari nanti, aku sih imanin dengan sangat supaya terjauh dari  kutuk mengembara aliasnya ya punya rumah sendiri yg layak di ibukota, tapi nabung dulu :))
Oiya, setidaknya udah 2x aku pindah kontrakan, pertimbangannya ya karena harga, luas bangunan dan lokasi. Nah rumah kontrakanku yg sekarang ini emang sih lebih mahal (2 digit boo) tapi untungnya bisa dicicil 2x dan untungnya lagi rumahnya lebih luas, dan untungnya lagi ga jauh dari jalan raya. Tuh coba liat aku beruntung kan hehee.
Rumahnya punya orang Bali, kata tetanggaku, orang2 yg sebelumnya ngontrak disana taun depannya punya rumah sendiri, wahh rumah pembawa berkah ya.. Puji Tuhan deh kalo beneran begitu 🙂
Emang sih situasi finansial lagi rada seret lantaran pindahan berdekatan dengan lebaran, tau kan lebaran itu pengeluarannya menggila. Aku ga ngerayain lebaran tapi aku bersenang-senang pas lebaran. Mudik terus ketemu keluarga besarku yg agamanya beraneka ragam 🙂
Mudik berarti harus siapin dana buat beli tiket PP Jakarta – Cirebon dan sebaliknya, perlu juga siapin uang buat beli oleh2, terus buat jajan disana karena kan ga mungkin pake uang ibuku kan, kan udah gede masa masih minta dijajanin 🙂
Seret dompet ga pa pa kan sifatnya cuman sementara yg penting bahagianya ga ikutan seret. Kalo pas lagi seret dompet kayak gini, entah kenapa selalu ada keyakinan bahwa Tuhan akan-pasti-sudah mencukupi. Selalu muncul keyakinan bahwa dalam setiap keseretan saat itu juga ada kelegaan. Pasti uangnya cukup. Seperti hari-hari sebelumnya, Tuhan sering sekali menaburkan serbuk ajaibnya ke-aku dan taraaaaa jadilah yg ajaib2 itu.
Tuhan tahu aku tuh penggila keajaiban, jadi Dia sering kali nunjukkin hal-hal kayak gitu ke-aku. Kayak anak kecil ya, gapapa aku mau jadi seperti itu, penggandrung keajaiban dan mujizat dan juga penikmat keajaiban dan mujizat.
Wah jadi kemana-mana yaa padahal awalnya pengen cerita soal rumah hehee. Btw aku belum cerita ya kalo sebelumnya setidaknya 9 tahun di masa aku tumbuh aku juga tinggal nomaden, pindah2 dari 1 rumah kontrakan ke kontrakan lainnya. Aku sih yakin bukan karena alasan ekonomi sampai papaku memutuskan buat hidup nomaden padahal kalo yg aku liat sih uang cukup. Rumah kontrakan kami bukan rumah besar dan mewah tapi buatku itu ‘lebih dari sekedar mewah’. Bahagia, hangat. Aku mau punya rumah yg hangat kayak rumah masa kecilku, rumah yg penghuninya akan saling mengkhawatirkan kalau salah satunya terlambat datang, yg penghuninya saling tertawa ketika satu orang bahagia, yg penghuninya turut sedih ketika salah satu penghuninya menangis, yg saling bercengkrama disatu meja, yg hangat.

*Pict : http://www.cse.org.uk

No place like home

Karena Engkau tahu apa yg aku perlu, maka ini doaku :
Dear Tuhan,
Aku (kami) butuh rumah, bukan rumah mewah dengan banyak pilar di kanan kirinya.
Kami butuh rumah, dengan  kamar tidur , kamar mandi, dapur dan ruang keluarga.
Rumah yg cukup untuk menampung 5 orang dewasa dengan keinginan luar biasa.
Rumah yg cukup untuk menampung lemari, sepatu, kulkas dan buku – buku kami yg mulai banyak.
Kami butuh rumah karena kami makin besar sekarang Tuhan.

Karena Engkau maha memberi, maka inilah doaku :
Dear Tuhan,
Rumahnya jangan terlalu jauh sama tempat kerja kami ya, dan Engkau tahu kan kapasitas dompet kami 🙂 sekalipun kami juga tahu Engkau besar dan luar biasa.
Enaknya sih punya rumah sendiri ya, bukan ngontrak,  dan kami gak pernah hilang iman untuk itu.
Suatu hari nanti, kami, satu persatu dari kami akan punya rumah untuk ditinggali, aku (kami) percaya  dengan sangat 🙂
Tapi Tuhan, sekalipun untuk sementara ini kami masih harus ngontrak juga gapapa, ga masalah buat kami, tapi kami butuh yg lebih besar 🙂

Karena doa tidak selamanya harus dengan menutup mata, maka inilah doaku :
Dear Tuhan,
Postingan di blog ini beneran doa ku loh ( kami malahan), aku tahu Engkau dengar Tuhan maka aku ucapkan amin.

PS : Oiya Tuhan, biar kehendakMu yg jadi bukan kehendakku

pict taken from homeeasyimprove.com 

Mimpi, Waktu dan aku

Suatu waktu ketika mimpi tiba dan membangunkanku, ya mimpiku tak membuatku makin lelap, mimpi membuatku tak sabar dengan detik jarum dan alarm pagi, 
mimpiku tak pernah melelahkan, selalu ada kata “siap” untuk sebuah mimpi.
Tidak tergenapi? bukan tidak hanya belum, atau mungkin tidak karena memang bukan, 
bagaimana menjelaskannya ya hmm 1 mimpi berganti dengan mimpi lainnya, 
berganti tanpa sesal karena tahu itu bukan.
Cuma waktu, 
biarkan berjalan sampai tiba saat berhenti dan sadar, 
jalan ini bukan milik ku, milikmu, dan akan ada jalan lain lagi, 
dan teruslah berjalan sampai kita memang harus berhenti, dan lalu berjalan lagi.
Karena tidak ada akhir untuk sebuah mimpi, 
berselang – seling, 1 mimpi datang menggantikan mimpi yg lain, 
seperti ribuan malam bahkan jutaan malam yg sudah terjadi dibumi, berganti jutaan siang juga.