Tidak terlewat

Hi, rasanya sudah lama aku tidak menyapamu, tidak dalam terangnya siang dan juga tidak dalam senyapnya malam.

Maaf kamu terlewat.

Sayang, kamu tidak terlupa, hanya saja hariku disini memaksa siang menjadi lebih panjang dan malam sekejap saja menghilang.

Ah alasan, mungkin itu yang ada dipikirmu.

Maaf kamu terlewat.

Sayang, aku sedang bingung menggabungkan kata dalam doa, sekalipun Tuhan tidak pernah sekalipun mensyaratkan doa nan indah untuk dikabulkan.

Sayang, aku  bingung bagaimana caranya meminta tanpa bermaksud menghabiskan semua jawaban doa untukku saja.

Padahal  kamu itu permintaan teregoisku.

Sayang, apa kabar matahari disana? Pertanyaan aneh ya, jangan tertawa aku sedang menanyakan kabar harimu? Baikkah? Semoga.

Sayang, apakah aku terlewat? Apakah kamu melewatkanku?

Jangan, setidaknya mulai sekarang dan jutaan hari kedepan.

 

Iklan

Menunggu

Aku sedang menunggu. Aku benci menunggu tapi kadang hidup mengarahkan jalanku pada satu keadaan dimana aku harus sabar menunggu.

Hari ini aku sedang menunggu, menunggu ini dan menunggu itu.

Abraham dulu menunggu, Nuh juga menunggu, Musa juga dulu menunggu dan sekian banyak orang kudus pun mengalami menunggu.

Aku menunggu, menunggu ini dan menunggu itu. Kamu pun juga bukan?

Menunggu mimpi yang terwujud, menunggu keajaiban yang datang, menunggu jawaban doa.

Menunggu janji janji yang tergenapi.

Aku manusia yang kadang ingin segala sesuatu terjadi dalam kejapan mata, aku kadang tidak punya banyak lapisan kesabaran. Bahkan kadang aku berharap punya tongkat ajaib pengabul segala doa. Apa kamu juga?

…………………………..

Hari ini aku baru saja baca newsletter dari Ps. Rick Warren, beliau bilang dalam masa menunggu sesungguhnya kita gak sendirian. When you are waiting on God, remember that you’re in a  good company begitu katanya.

We are in a hurry but God is not in a hurry begitu kata Rick Warren, ya baiklah….hanya saja menunggu dengan sabar itu sulit, menunggu sampai jawaban datang itu melelahkan dan melemahkan.

Aku tidak menunggu dalam sendiri. Abraham, Hana, Musa, Nuh dan sekian banyak tokoh di Alkitab mengalami yang namanya menunggu. Mereka sabar menunggu harusnya aku juga.

Mereka sabar menunggu dan mereka dapatkan jawaban.

Menunggu mungkin menyebalkan tapi apalah daya ku ketika Tuhan mau aku untuk menunggu. Hanya beri aku sabar yang banyak ketika aku menunggu, itu doaku.

 

 

 

Semangat!!!

Kali ini aku mau cerita tentang mimpi atau bisakah kalo sekarang disebut cita-cita? Iya cita-cita selangkah lebih maju daripada sekedar bermimpi karena setidaknya aku sudah punya sedikit rencana untuk mewujudkannya. Sedikit-sedikit, perlahan tapi pasti. Amin.

Sekolah lagi, iya itulah mimpi yang jadi cita-cita aku sekarang ini. Dulu bertahun tahun yang lalu *mulei sotoy dan sok tua* nglanjutin s1 itu sempet jadi mimpi menggebu – gebuku sayangnya makin kesini kok keinginannya makin redup….

Sampai ketika aku memutuskan untuk ikutan les toefl preparation dan ketemu teman-teman yang ambisi pendidikannya melebihi aku 🙂 Mereka kebanyakannya memang ikut TOEFL Preparation karena mau lanjut kuliah ke luar negeri. Wah aku jadi merasa termotivasi lagi 😀

Keluar negri? Sekolah? Beasiswa…… dapat beasiswa untuk nglanjutin sekolah keluar negri yapp itu tujuan aku saat ini. Ngayal? Oh jelas tapi bukannya segala sesuatu yang besar itu dimulai dari hayalan 🙂

Ada beberapa orang yang aku kenal yang bahkan untuk mengkhayal saja tidak berani, kasihan ya… wong ngayal itu nggak bayar kok. Aku berkhayal dan yang lebih utama lagi aku melakukan sesuatu untuk mewujudkan hayalan yang konon kata beberapa orang disebut mustahil.

Aku ngga tau apa aku bakal jadi lanjut sekolah keluar negri atau ngga, jalannya masih panjang dan berliku. But heyy, setidaknya aku sudah melangkah sekalipun saat ini baru selangkah, setidaknya aku tidak tinggal diam dan setidaknya aku tidak akan menyesal karena sudah memilih berjalan maju.

Aku tahu kalaupun aku tidak sampai ketujuanku aku sudah berjalan melebihi mereka yang hanya bisa diam dan mencibirku. Mereka selamanya akan tetap ada dibelakangku 🙂

The future belongs to those who believe in the beauty of their dreams – Eleanor Roosevelt-

 

Jadi kapan?

Mau cari yg seperti apa? Yg kaya? Yg ganteng? Atau kombinasi semuanya? <— pertanyaan kedua setelah pertanyaan KAPAN 🙂

Hey, untuk yg nanya “KAPAN” , nampaknya kalian salah tanya 🙂 Pertanyaan kapan itu bukan kuasa saya untuk jawab. Memang saya siapa? Tuhan? Lah wong saya aja sama penasarannya sama kalian ko 😀 Ajukan pertanyaan kapan kamu pada Yang Punya Waktu ya, da saya mah hanya manusia yang bisanya cuman buat ribuan rencana  dimana sisanya Tuhan yang punya kuasa.

Lalu apa yg dicari? Apakah yang kaya raya-kah? yang hartanya melimpah ruah dan gak abis dibagi 7 turunan-kah? atau yang ganteng dan aura seksinya menyerupai Adam Levine-kah :p

Oh God, pengen ketawa rasanya nulis paragraf terakhir itu 😀  Level ke-keren-an cowo diliat dari fisiknya itu mah anak sekola pisan :p Dulu waktu masih amat belia memang definisi keren itu ya yg begitu. Hanya saja seturut dengan bertambahnya usia dan tingkat kedewasaan entah kenapa kriteria keren model gitu pelan-pelan kehapus dan keganti. Lambat laun pemain basket yang tinggi dan putih udah ga bikin takjub mata lagi, orang organisasi nampak biasa aja bahkan orang yg ip-nya tinggi pun yah biasa aja keliatannya, ngga ada cahaya-cahaya nya gitu (apa sehh -_- ) ngga semenakjubkan dulu 🙂

Bermalam – malam yang lalu terlintas dipikiran saya emangnya kriteria saya itu yang kayak apa sih? Saya renungin baek – baek…. dan ternyata jauh dilubuk hati saya kriteria lelaki keren itu ada di ayah saya. Orang bilang seorang ayah akan selalu jadi cinta pertama anak perempuannya, ah nampaknya saya termasuk kelompok itu. Cinta pertama saya didunia ini adalah alm. ayah saya.

Cerdasnya beliau, hangatnya beliau, sabarnya beliau, hebatnya beliau….Tuhan…saya tau banget ngga ada satu manusia pun yang sama dan serupa diatas bumi ini tapi bisalah Tuhan kalau “orang itu” se-enggak-nya punya sifat sifat baik seperti ayah saya.

Dan oiya, bisakah kalian berenti menanyakan kapan dkk ? Jadi males tau kalo diajak reunian atau ngumpul kangen kangenan kalo terus ditanyain model begitu. Ah atau memang kalian terlalu “care” sama hidup orang lain ya 😀

 

Tentang dia #1

Aku merindukan dia, sosok tanpa nama dengan wajah yang anehnya dapat kuingat dengan jelas.

Kadang aku sematkan doa indah untuknya, untaian panjang serupa kalung mutiara bertuliskan semoga semuanya baik – baik saja.

Kalian tahu siapa dia? Dia lah orang yang kusebut  mempesona tanpa usaha, yang bersinar tanpa perlu pusing totok aura. Dia yang aku tidak tahu harus menyebutnya sebagai siapa?

Dia nyata, dia benar – benar ada dan dia sama manusianya seperti aku dan kamu.

Aku sedang tidak berilusi dengannya, dia bukan sosok antah berantah yang mengambang diudara. Dia lebih sering menari-nari dipikiranku, hilir mudik meloncat melesat melampaui dimensi yang disebut waktu.

Aku hapal suaranya, dia menggema disetiap lekuk kepala. Aku bisa merasakan genggaman tangannya, hangat sekaligus dingin yang menyegarkan. Entah kusebut apa suhu seperti itu, hanya saja rasanya aku pernah menyentuh tangan yang seperti itu dulu, genggaman ayahku.

Aku dan dia, kami penghuni dunia yang  tidur dan bangun dibawah langit yang sama, berlari dan berjalan di atas tanah yang  serupa dan memohon pada Empunya yang sama. Harinya dan hariku datang dan berlalu diwaktu yang tidak berbeda. Pagi, siang dan malam berulang dikeesokan dan esoknya lagi dan esoknya lagi.

Aku tidak mengenalnya bahkan tidak tahu siapa namanya.

Malam kemarin dia sukses memberantakkan isi kepalaku. Aku tidur dan bangun dengan bingung. Mimpi yang tidak berbekas, perasaan yang meluap luap. Dia menggerayang dengan santun diotakku, sedikit demi sedikit menguasai hati, perlahan tapi pasti menjajah aku yang memuja sebuah kata bernama merdeka.

Aku tidak tahu namanya, tapi kuhela dan kuhembus dia dengan suka rela.

Kamu

Ingin sekali bisa marah dalam hitungan hari setidaknya lebih lama dari yang biasa terjadi
Ingin sekali tidak luluh karena maaf dan senyuman sendu
Kau sebut ku jahat pun aku rela
Sehari saja lebih lama menyimpan maaf untuk kamu

Teruntuk kamu yang menyebalkan tapi selalu dimaafkan, sabarku yang sedikit lebih panjang ini nampaknya sudah hampir menemui ujung.

ps : Kepada aku yang akhirnya mengeluarkan kembali simpanan maaf  buat kamu, sekali lagi mengakui lemahnya aku.