Tidak terlewat

Hi, rasanya sudah lama aku tidak menyapamu, tidak dalam terangnya siang dan juga tidak dalam senyapnya malam.

Maaf kamu terlewat.

Sayang, kamu tidak terlupa, hanya saja hariku disini memaksa siang menjadi lebih panjang dan malam sekejap saja menghilang.

Ah alasan, mungkin itu yang ada dipikirmu.

Maaf kamu terlewat.

Sayang, aku sedang bingung menggabungkan kata dalam doa, sekalipun Tuhan tidak pernah sekalipun mensyaratkan doa nan indah untuk dikabulkan.

Sayang, aku  bingung bagaimana caranya meminta tanpa bermaksud menghabiskan semua jawaban doa untukku saja.

Padahal  kamu itu permintaan teregoisku.

Sayang, apa kabar matahari disana? Pertanyaan aneh ya, jangan tertawa aku sedang menanyakan kabar harimu? Baikkah? Semoga.

Sayang, apakah aku terlewat? Apakah kamu melewatkanku?

Jangan, setidaknya mulai sekarang dan jutaan hari kedepan.

 

Iklan

Tentang dia #1

Aku merindukan dia, sosok tanpa nama dengan wajah yang anehnya dapat kuingat dengan jelas.

Kadang aku sematkan doa indah untuknya, untaian panjang serupa kalung mutiara bertuliskan semoga semuanya baik – baik saja.

Kalian tahu siapa dia? Dia lah orang yang kusebut  mempesona tanpa usaha, yang bersinar tanpa perlu pusing totok aura. Dia yang aku tidak tahu harus menyebutnya sebagai siapa?

Dia nyata, dia benar – benar ada dan dia sama manusianya seperti aku dan kamu.

Aku sedang tidak berilusi dengannya, dia bukan sosok antah berantah yang mengambang diudara. Dia lebih sering menari-nari dipikiranku, hilir mudik meloncat melesat melampaui dimensi yang disebut waktu.

Aku hapal suaranya, dia menggema disetiap lekuk kepala. Aku bisa merasakan genggaman tangannya, hangat sekaligus dingin yang menyegarkan. Entah kusebut apa suhu seperti itu, hanya saja rasanya aku pernah menyentuh tangan yang seperti itu dulu, genggaman ayahku.

Aku dan dia, kami penghuni dunia yang  tidur dan bangun dibawah langit yang sama, berlari dan berjalan di atas tanah yang  serupa dan memohon pada Empunya yang sama. Harinya dan hariku datang dan berlalu diwaktu yang tidak berbeda. Pagi, siang dan malam berulang dikeesokan dan esoknya lagi dan esoknya lagi.

Aku tidak mengenalnya bahkan tidak tahu siapa namanya.

Malam kemarin dia sukses memberantakkan isi kepalaku. Aku tidur dan bangun dengan bingung. Mimpi yang tidak berbekas, perasaan yang meluap luap. Dia menggerayang dengan santun diotakku, sedikit demi sedikit menguasai hati, perlahan tapi pasti menjajah aku yang memuja sebuah kata bernama merdeka.

Aku tidak tahu namanya, tapi kuhela dan kuhembus dia dengan suka rela.

Absurd

Dari aku yang mengenalmu ribuan hari yang lalu.

Hari ini mendung nampak malu-malu, apa kamu ingat hari itu? Hari ketika warna langit serupa dengan hari ini.

Hari ketika rasa kita masih sama.

Dear, dulu aku pikir semua yg tidak terlihat itu hukumnya kekal tidak rusak dan tidak akan hilang. Maaf aku yang salah, naifku terlalu menggebu dan menghilangkan suatu kata bernama logika.

Bukan maksudku untuk lupa, sungguh kau tahu jatuh bangunku menjemput sebuah logika ketika terang-terangan aku tenggelam dalam suatu ungkapan bernama cinta.

Aku yang rela terbenam saja tanpa usaha, aku yang suka hati merelakan diri menjahit benang-benang bahagia bernama asa, ketika semua orang berkata itu adalah sia-sia.

Sepenuhnya khilaf itu milikku.

Teruntuk kamu yang sadar terlebih dahulu sebelum aku…..semalam seekor kunang-kunang menyampaikan pesan darimu. Setelah ribuan hari….setelah ribuan keras hati…..setelah ribuan bahagia semu itu…..

Aku sudah berbeda dan kau pun juga.

Kuantarkan kunang-kunang itu keluar kamarku sembari berbisik selesai sudah, terima kasih.