Tidak terlewat

Hi, rasanya sudah lama aku tidak menyapamu, tidak dalam terangnya siang dan juga tidak dalam senyapnya malam.

Maaf kamu terlewat.

Sayang, kamu tidak terlupa, hanya saja hariku disini memaksa siang menjadi lebih panjang dan malam sekejap saja menghilang.

Ah alasan, mungkin itu yang ada dipikirmu.

Maaf kamu terlewat.

Sayang, aku sedang bingung menggabungkan kata dalam doa, sekalipun Tuhan tidak pernah sekalipun mensyaratkan doa nan indah untuk dikabulkan.

Sayang, aku  bingung bagaimana caranya meminta tanpa bermaksud menghabiskan semua jawaban doa untukku saja.

Padahal  kamu itu permintaan teregoisku.

Sayang, apa kabar matahari disana? Pertanyaan aneh ya, jangan tertawa aku sedang menanyakan kabar harimu? Baikkah? Semoga.

Sayang, apakah aku terlewat? Apakah kamu melewatkanku?

Jangan, setidaknya mulai sekarang dan jutaan hari kedepan.

 

Iklan

Cinta ibu

Kemarin seorang teman kerja ku (yg kebetulan pria) berkata bahwa kelak bila istrinya berkata kasar pada ibunya maka dia akan langsung menceraikannya – oiya sampai tulisan ini dibuat status temenku itu masih lajang tanpa merana-

Sekalipun sedikit keras tapi aku sedikit banyak sepakat dengan pendapat temenku itu. Dalam hal ini bukan berarti aku setuju dengan perceraiannya loh, aku setuju sama pendapat temenku yang menempatkan sosok ibu diatas segalanya.

…………………..

Ibuku sudah menjadi orang tua tunggal selama lebih dari 20 tahun. Dalam rentang waktu itu aku menyaksikan, mendengar dan merasakan lelahnya, kecewanya, keputusasaannya, semangatnya, menangisnya, tawanya, bahagianya.

Ah ibu, kalau bumi ini punyaku maka akan kuberi buatmu.

………………….

Sampai saat ini aku belum menikah, kata orang-orang disekitarku mungkin aku yang terlalu pemilih.

Iya aku memang pemilih, aku akan memilih lelaki yang punya cinta meluap luap buatku, buat keluargaku dan ibuku.

Aku cuma punya satu ibu, aku mau dia bahagia sebahagia aku atau bahkan lebih.

Ketika nanti lelaki itu datang dan masuk dalam hidupku, maka aku akan ajukan satu permintaan khusus untuknya, sayangi ibuku maka aku akan menyayangi ibumu.

Tentang dia #1

Aku merindukan dia, sosok tanpa nama dengan wajah yang anehnya dapat kuingat dengan jelas.

Kadang aku sematkan doa indah untuknya, untaian panjang serupa kalung mutiara bertuliskan semoga semuanya baik – baik saja.

Kalian tahu siapa dia? Dia lah orang yang kusebut  mempesona tanpa usaha, yang bersinar tanpa perlu pusing totok aura. Dia yang aku tidak tahu harus menyebutnya sebagai siapa?

Dia nyata, dia benar – benar ada dan dia sama manusianya seperti aku dan kamu.

Aku sedang tidak berilusi dengannya, dia bukan sosok antah berantah yang mengambang diudara. Dia lebih sering menari-nari dipikiranku, hilir mudik meloncat melesat melampaui dimensi yang disebut waktu.

Aku hapal suaranya, dia menggema disetiap lekuk kepala. Aku bisa merasakan genggaman tangannya, hangat sekaligus dingin yang menyegarkan. Entah kusebut apa suhu seperti itu, hanya saja rasanya aku pernah menyentuh tangan yang seperti itu dulu, genggaman ayahku.

Aku dan dia, kami penghuni dunia yang  tidur dan bangun dibawah langit yang sama, berlari dan berjalan di atas tanah yang  serupa dan memohon pada Empunya yang sama. Harinya dan hariku datang dan berlalu diwaktu yang tidak berbeda. Pagi, siang dan malam berulang dikeesokan dan esoknya lagi dan esoknya lagi.

Aku tidak mengenalnya bahkan tidak tahu siapa namanya.

Malam kemarin dia sukses memberantakkan isi kepalaku. Aku tidur dan bangun dengan bingung. Mimpi yang tidak berbekas, perasaan yang meluap luap. Dia menggerayang dengan santun diotakku, sedikit demi sedikit menguasai hati, perlahan tapi pasti menjajah aku yang memuja sebuah kata bernama merdeka.

Aku tidak tahu namanya, tapi kuhela dan kuhembus dia dengan suka rela.